Sekali-sekali, perhatikanlah pemandangan di sebuah perempatan di Jakarta pada setiap tiap hari kerja. Ketika jarum jam mendekati titik pukul jam tujuh pagi, di perempatan mana pun, dari keempat arah, puluhan — atau ratusan — kendaraan serentak berjejal berebut di depan.
Sebuah kemacetan dahsyat pun segera tercipta. Klakson memekik-mekik. Brisik! Orang mengumpat-umpat dan berteriak-teriak. Di dalam bus-bus penumpang merengut, cemas, berkeringat. Di sedan-sedan yang bagus dan mengkilap, orang juga merengut sambil membaca koran pagi. Tapi mereka tak berkeringat. Maklum, mobil mereka dilengkapi AC dan kacanya dibalut selapis seluloid hitam untuk menahan terik matahari.
Lampu lalu lintas perempatan itu normal, ada setrumnya. Tapi rupanya orang-orang tak sabar. Juga para sepeda motor yang, seperti kuda kecil yang lapar, melontarkan diri ke depan. Lampu menyala merah di depan mereka. Tapi siapa peduli? Bukankah orang dari sebelah sana para pengguna jalan lain juga melanggarnya?
Di Jakarta, kemacetan adalah menu sehari-hari. Pagi, siang, malam. Ada yang menghitung, kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 17,2 triliun per tahun. Ini belum termasuk kerugian lain, misalnya dari udara yang tercemar akibat emisi gas buang, yang diperkirakan sekitar 25 ribu ton per tahun.
Kemacetan disebabkan oleh tidak berimbangnya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dengan pengembangan jaringan jalan. Jumlah kendaraan roda dua dan empat di Jakarta sebanyak 6,7 juta unit, dengan pertumbuhan 1.172 unit per hari. Bandingkan dengan panjang jalan yang 7.650 kilometer, dan dengan pertumbuhan panjang jalan yang hanya 0,01 persen per tahun.
Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Dari total jumlah kendaraan itu, 98 persen adalah kendaraan pribadi, sedangkan sisanya angkutan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut kendaraan pribadi jauh lebih sedikit ketimbang penumpang yang dibawa angkutan umum. Kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7 persen orang yang beraktivitas. Adapun kendaraan umum mengangkut sekitar 50,3 persen penumpang.
Pak Gubernur Jakarta pun pusing tujuh keliling sambil mengelus-elus kumisnya. Ia nyaris tak berdaya mengurai kemacetan kotanya. Sejumlah upaya sudah dilakukan, misalnya dengan proyek busway. Beberapa rencana juga sudah digagas. Ada skema sistem transportasi makro, pembatasan sepeda motor di kawasan tertentu, kereta bawah tanah, monorel, dan seterusnya. Tapi kemacetan belum juga terurai.
Kemacetan dahsyat terjadi karena pada saat sejumlah orang melanggar aturan, orang lain pun akan melanggarnya. Dan bila hal itu terjadi, anarki yang timbul pun akan mengenai hampir siapa saja, dengan derajat berbeda-beda. Tapi kenapa orang tak sadar juga akan hal itu?
Emtah. Yang jelas, di perempatan jalan itu telah terjadi semacam paralelisme dua asas. Yang pertama adalah asas siapa-kuat-boleh-ambil-jalan, dan metromini pun dengan mudah mengintimidasi bajaj.
Yang kedua adalah asas biar kecil-asal-banyak: sepeda-sepeda motor itu, dengan persatuan dan kesatuan dan kenekatan, bisa menghentikan arus mobil, apalagi bila itu sedan BMW dan Jaguar. Si pengemudi takut cat sedannya lecet dan penumpangnya takut dikeroyok.
Perempatan, jalan-jalan, di Jakarta mungkin cermin Indonesia.
>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah terjebak kemacetan?